Aksara Lampung dan Masyarakatnya: Refleksi Diri dari Penelitian Lapang SEI di Sumatra
“Tidak terbayangkan sebelumnya saya akan sangat menikmati riset. Pengalaman ini memberi lebih banyak rasa ingin tahu saya daripada jawaban, dan saya ingin terus mengembangkannya.”
Aksara Lampung, sebagaimana namanya, merupakan sistem tulisan yang digunakan oleh masyarakat Lampung di ujung selatan Pulau Sumatra, Indonesia. Aksara ini berjenis alfasilabis turunan Brahmi, dengan bentuk bersudut yang khas, dan berkerabat dekat dengan aksara-aksara di wilayah sekitarnya seperti aksara Ulu dan Kerinci.
Tumbuh besar di Jakarta, saya cukup sering berkunjung ke Lampung yang jaraknya tergolong dekat. Namun, aksara Lampung cukup sulit ditemui, padahal ia pernah berjaya di masa lampau; digunakan di surat resmi pemerintah Belanda, dan dikembangkan dalam bentuk huruf cetak. Dan yang paling disayangkan, aksara Lampung hingga kini masih belum masuk ke dalam Unicode—artinya, belum bisa digunakan untuk komunikasi digital. Kedekatan personal ini, ditambah dengan latar belakang sebagai desainer huruf, mendorong saya untuk bergabung di proyek The Missing Scripts di Atelier National de Recherche Typographique di Prancis, suatu program yang bertujuan mengeksplorasi representasi tipografi digital aksara-aksara minoritas.

Saya memulai penelitian aksara Lampung pada Oktober 2023. Di tahap awal penelitian, saya banyak bertumpu pada literatur dan sumber-sumber digital. Satu yang saya amati dari hasil studi literatur ini adalah banyaknya ragam grafem1 (karakter huruf) dan variannya yang saya temui dalam manuskrip aksara Lampung dan Sumatra bagian selatan lainnya.
Ragam variasi ini cukup kompleks. Pasalnya, sulit untuk menentukan batas antara penyamaan dan pembedaan di antara ragam huruf Sumatra bagian Selatan. Sebagian ahli berpendapat bahwa aksara-aksara ini—Lampung, Ulu, dan Kerinci—termasuk dalam satu aksara yang sama, sehingga penambahan karakter sebagai subset mungkin dianggap cukup. Sebagian lainnya berpendapat bahwa varian-varian ini sebaiknya diperlakukan sebagai aksara yang berbeda di Unicode, sehingga memerlukan blok dan pengkodean terpisah seperti halnya huruf Romawi, Kiril (Rusia), dan Yunani.
Bahkan di masyarakat Lampung sendiri, kesepakatan mengenai “grafem standar” yang perlu dikodekan tidak mudah dicapai. Hal ini disebabkan oleh perbedaan penafsiran dan praktik penggunaan. Pada tahun 1985, pemerintah Lampung melakukan upaya standarisasi aksara dan ortografi. Dalam proses tersebut, beberapa karakter baru diperkenalkan, seperti GRA, tanda ubah O dan E, angka Lampung, serta tanda-tanda baca yang tidak ditemukan di manuskrip tradisional. (Gambar 1) Inovasi ini kemudian menimbulkan perdebatan: mana yang diterima, mana yang ditolak oleh masyarakat?

Meskipun saya orang Indonesia, saya bukanlah orang Lampung. Sejak awal saya menyadari keterbatasan posisi ini. Saya tidak bisa—dan memang sebaiknya tidak—berbicara atas nama masyarakat Lampung. Misalnya, saya tentu tidak memiliki otoritas untuk menentukan kebiasaan tulis apa yang saat ini berlaku, atau karakter apa saja yang benar-benar perlu dikodekan untuk aksara Lampung. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memerlukan keterlibatan langsung dengan masyarakat.
Enam bulan melakukan studi literatur, saya semakin yakin bahwa penelitian lapangan diperlukan. Sebagai peneliti luar, mengandalkan sumber-sumber digital saja sangat berisiko. Detail-detail kecil penting bisa terlewat, dan asumsi yang keliru bisa terbentuk tanpa disadari. Di sisi lain, pengguna lokal, meski memiliki pemahaman dalam aksara ini, sering kali tidak memiliki pengetahuan teknis untuk adopsi digital yang tepat, seperti menentukan bagaimana varian sebaiknya ditangani secara digital. Di sinilah kolaborasi antarpihak menjadi penting.
Saya cukup beruntung terpilih sebagai penerima program percontohan SEI Research Fellowship, dengan hibah serta pendampingan dari tim SEI. Dukungan ini memungkinkan saya melakukan kunjungan lapangan ke Sumatra dengan dua tujuan sederhana: (1) mengamati secara langsung bagaimana aksara lokal digunakan, baik secara historis maupun kontemporer, dan (2) bertemu dengan para pakar dan pengguna lokal untuk mendengar pandangan serta masukan mereka.
Penelitian Lapang
Saya menghabiskan sekitar satu bulan di Indonesia pada Agustus dan September 2024. Perjalanan dimulai di Jakarta, tempat saya meneliti naskah-naskah aksara Lampung dan Sumatra bagian selatan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Di Jakarta pula saya bertemu dengan sejumlah pakar dan sesama peneliti, termasuk ibu Lisa Misliani, M Haidar Izzuddin, dan Febri M Nasrullah.
Setelah sekitar satu minggu di Jakarta, saya berangkat ke Sumatra dengan didampingi istri, Mala. Kunjungan pertama kami di Lampung adalah ke rumah bapak Arman AZ, seorang peneliti independen sekaligus budayawan Lampung ternama. Di kediamannya—yang juga berfungsi sebagai pusat kebudayaan—kami bertemu dengan para pegiat lain dan berdiskusi tentang sejarah aksara Lampung, hubungannya dengan masyarakat, serta kondisinya hari ini. Lalu, mereka memperkenalkan kami pada beberapa kontributor lain, termasuk ibu Farida Ariyani, profesor linguistik terapan di Universitas Lampung yang juga kaprodi magister Bahasa dan Budaya Lampung.
Diskusi kami dengan para narasumber tidak selalu bersifat teknis atau secara eksklusif membahas aksara; pembicaraan sering kali berkembang ke soal masyarakat, budaya, dan sejarah. Mereka menyambut kami dengan sangat terbuka dan antusias, dan membagikan perspektif yang beragam sesuai latar belakangnya, Misalnya, dalam kunjungan mendadak ke perpustakaan Museum Lampung, kami disambut oleh ibu Lena dan pak Yuda, staf museum yang dengan ramah membantu kami melihat koleksi. Mereka bahkan mengizinkan kami membawa pulang beberapa buku terbitan lama. Katanya, yang mana sangat saya apresiasi, “kami tidak mencetak ulang publikasi lama ini, tetapi kami percaya kami memberikannya kepada orang yang tepat untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.” Secara umum, semua orang yang kami temui selama perjalanan menunjukkan keramahan serupa, dan hal itu membuat pengalaman terjun lapang ini terasa sangat mengesankan.
Salah satu temuan kunci dari kunjungan ini adalah pengamatan saya pada perbedaan penggunaan aksara dalam naskah lama dan dalam praktek kontemporer. Dari pengamatan koleksi naskah, saya mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang ortografi tradisional: lebih sedikit tanda vokal, tidak adanya spasi, serta adanya aturan khusus untuk kombinasi konsonan-vokal-konsonan (KVK). Sebaliknya, dalam penggunaan kontemporer, ortografi standar yang diperkenalkan pada tahun 1985 tampak lebih dominan. Ortografi ini menggunakan lebih banyak tanda vokal, mengenal spasi, dan memiliki struktur KVK yang terstandarisasi. Temuan-temuan ini menjadi masukan penting bagi proposal aksara Lampung ke Unicode yang sedang dikembangkan oleh para rekan SEI.
Dalam beberapa kesempatan, saya sempat meminta para kontributor menuliskan kata-kata dalam aksara Lampung secara spontan. Tujuannya sederhana: melihat gaya dan kebiasaan apa yang mereka pilih ketika menulis tanpa persiapan khusus. Menariknya, semua responden menggunakan ortografi baru. Hal ini menunjukkan standardisasi baru yang dianggap kontroversial sebenarnya telah diterima cukup luas, setidaknya sampai batas tertentu. Namun, beberapa inovasi tetap diperdebatkan, misalnya pembedaan antara grafem RA dan GRA, serta penggunaan angka Lampung.
Dari Lampung, kami melanjutkan perjalanan ke Sumatra Selatan dan Bengkulu2, tempat aksara-aksara lain dari kelompok Sumatra bagian selatan digunakan. Kunjungan ini bertujuan terutama untuk membandingkan Lampung dengan aksara-aksara kerabatnya dalam cakupan yang lebih luas: apakah pengodean terpisah diperlukan, atau apakah Lampung dapat menggunakan blok Rejang—subset aksara Sumatra bagian selatan yang sudah ada di Unicode? Setelah membandingkannya secara lebih dekat, saya berpendapat bahwa perbedaan-perbedaannya cukup kuat untuk mendukung pengkodean Lampung secara terpisah.
Refleksi Diri
Penelitian lapangan ini membantu mengkonfirmasi banyak detail kecil tentang aksara Lampung yang sebelumnya ingin saya pahami lebih dalam: perbedaan antar varian, hubungannya dengan aksara-aksara kerabat, serta perspektif lokal terhadap aksara ini. Namun yang lebih penting, pengalaman ini memperkuat hubungan saya dengan aksara Lampung dan masyarakatnya. Saya sadar bahwa yang saya kerjakan hanyalah bagian kecil dari proses panjang untuk mengadopsi aksara ini ke platform digital, tetapi hubungan-hubungan yang terbentuk sekarang telah membuka kemungkinan kolaborasi lintas disiplin ke depannya.
Selama proses ini, SEI terus memberi dukungan melalui pertemuan rutin dan sesi evaluasi. Dukungan ini membantu saya menjaga agar pekerjaan ini tetap selaras dengan kebutuhan proses adopsi Unicode—sebuah proses yang sebelumnya hanya saya pahami secara samar.
Bagi saya, saya berani mengatakan bahwa perjalanan SEI ini mengubah persepsi saya terhadap penelitian. Sebagai desainer, saya hampir tidak pernah membayangkan diri menjadi “peneliti” sebelumnya; saya ingin tetap menjadi praktisi. Namun, di perjalanan inilah saya menyadari bahwa saya sangat menikmati penelitian lapang. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat lah saya mulai memahami ikatan budaya antara aksara dan para penggunanya, di luar dari sekadar alat literasi. Selesai perjalanan ini, saya semakin ingin mendalami bidang tersebut. Dan ternyata, keinginan itu akan terwujud karena saya baru saja diterima menjadi kandidat doktor di KITLV Leiden, Belanda, untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan antara aksara dan masyarakatnya. Program SEI Research Fellowship ini tidak hanya memberikan saya kesempatan penelitian lapang, tetapi juga membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Bagi aksara Lampung, hasil dari penelitian lapang ini memperkuat argumen untuk memasukkannya ke dalam Unicode, satu langkah maju menuju inklusi digital.
Interested in conducting a similar project? Check out the SEI Research Fellows Program.
- Grafem adalah istilah untuk unit terkecil dari bahasa tulis yang dapat memengaruhi makna, kira-kira setara dengan apa yang biasa kita sebut ‘karakter’. Representasi visual dari grafem disebut glif. ↩︎
- Saya menghabiskan satu minggu lagi di Sumatera Selatan dan Bengkulu karena perjalanan lapangan juga mencakup eksplorasi Surat Ulu (aksara tetangga, yang saat ini diwakili oleh subset Rejang dalam blok Unicode), tetapi ini mungkin dapat dibahas dalam postingan blog lain. ↩︎